News

We provide the latest news to stay update with what's happening now.

Saat ini gaji tidak lagi menjadi satu-satunya hal yang dipertimbangkan oleh seseorang dalam mencari pekerjaan atau bahkan bertahan di sebuah perusahaan. Semakin majunya pertumbuhan industri, para pekerja pun mulai cerdas untuk memikirkan kenyamanan dan keselamatan dalam bekerja.

Yuk kita intip tujuh bahaya keselamatan di tempat kerja versi konsultan NSC JoAnn Dankert, Nami George, dan Rachel Harrington:

  1. Bekerja di Ketinggian
  2. Bekerja di ketinggian merupakan salah satu aktivitas dengan risiko kecelakaan kerja tertinggi. Hal ini dibuktikan dengan data Biro Statistik Tenaga Kerja tahun 2014 yang menunjukkan 14% kejadian fatality disebabkan oleh jatuh dari ketinggian. Dankert, konsultan senior NSC yang berbasis di Arizona mengatakan bahwa bahaya yang terkait dengan bekerja di ketinggian dapat berasal dari kurangnya pemahaman keselamatan kerja baik dari pekerja maupun menejemen perusahaan. Perusahaan mungkin tidak tahu bahwa mereka harus memberikan Alat Pelindung Diri (APD) atau pekerja tidak menggunakan APD dengan benar. Beberapa perusahaan bahkan tidak memiliki prosedur keamanan kerja secara tertulis. Adapun solusi ketika kita bekerja dalam ketinggian, yakni berikanlah pemahaman kepada pekerja tentang pentingnya keselamatan kerja, pastikan APD terpasang dengan baik, dan periksa keamanan dan kelayakan seluruh peralatan kerja.

  3. Manajemen Housekeeping yang Buruk
  4. Penumpukan barang yang menutupi jalur evakuasi, penumpumpukan barang yang tidak rapi serta penumpukan yang terlalu tinggi hingga hampir menutupi kepala sprinkler adalah permasalahan yang sering ditemui di perusahaan. Kepala sprinkler yang tertutup oleh tumpukan barang dapat menyebabkan sprinkler tidak bekerja dengan maksimal saat tejadi kebakaran. Selain itu, tumpukan yang tidak rapi dan kebocoran dari penyimpanan air dapat menyebabkan kecelakan kerja bagi pekerja, mulai dari tersandung, terpeleset, hingga terjatuh. Jika menemui kondisi tersebut, pekerja tidak perlu menunggu petugas kebersihan untuk membersihkannya. Pekerja seharusnya memiliki inisiatif untuk membersihkan atau merapikan barang yang diletakkan tidak sesuai agar kondisi tidak aman dan kecelakaan kerja dapat terhindar. Jika ketidaksesuaian yang terjadi membutuhkan orang yang ahli dalam membersihkan atau merapikannya, maka pekerja harus segera menyampaikan isu tersebut kepada supervisornya agar dapat segera dikirim ahli yang tepat. Ketika membicarakan terkait ruang penyimpanan, pekerja harus memastikan bahwa ada ruang yang cukup untuk jalur listrik, akses bagi pekerja keluar dan masuk, serta jalur evakuasi jika terjadi keadaan darurat.

  5. Bahaya Listrik dan Kabel Ekstensi
  6. Banyak bahaya Listrik yang terjadi akibat dari penggunaan kabel ekstensi yang tidak sesuai. Dankert menyaksikan di sebuah perusahaan manufaktur yang menggabungkan lebih dari 5 kabel ekstensi dan diikatkan secara bersamaan. Pengikatan kabel ekstensi seperti itu dapat menyebabkan kebakaran akibat panas dari penyaluran arus listrik yang berlebihan. Ada berbagai macam solusi dalam mengatasinya, salah satunya adalah penggantian berkala dari kabel ekstensi untuk menghindari kondisi kabel yang terlalu panas. Danker mengungkapkan, biasanya penggunaan kabel ekstensi yang bertumpuk hanya untuk kebutuhan "sementara". Tetapi, penggunaan "sementara" ini seringnya berlanjut hingga berminggu-minggu. Penggunaan yang sudah berminggu-minggu ini menurut OSHA tidak dapat dianggap "sementara" lagi, namun dianggap sebagai gerbang dari bahaya dalam lingkungan kerja. Lebih dari itu, penggunaan kabel ekstensi yang diletakkan begitu saja di lantai dapat menjadi sebuah jebakan bahaya yang dapat memangsa siapa saja. Bisa saja kabel tersebut tertarik oleh kaki pekerja yang lewat sehingga mengakibatkan kejutan listrik saat terputus. Oleh karenanya, penanganan kabel ekstensi sangat perlu diperhatikan oleh perusahaan untuk menghindari kemungkinan terburuk, sebut saja kebakaran. Solusinya, pekerja harus dibekali kemampuan dalam memutuskan apakah kebutuhan kabel ektensi tersebut untuk kepentingan sementara atau seterusnya. Jika kebutuhan tersebut hanya sementara, kabel ekstensi harus ditempatkan di ujung ruangan dan dalam kondisi tertutup. Selain itu, dibutuhkan pula inspeksi berkala untuk mengetahui apakah kabel ekstensi yang digunakan sesuai dengan arus listrik yg disalurkan dan layak pakai. Kabel yang tidak layak pakai harus segera disingkirkan agar tidak digunakan kembali.

  7. Forklift
  8. Forklift adalah mobil berjalan atau kendaraan yang memiliki dua garpu yang bisa digunakan untuk mengangakat “pallet”. George menyatakan bahwa penggunaan alat berat menyumbang cukup banyak angka kecelakaan kerja lantaran operator bekerja dengan terburu-buru. Kecelakan kerja yang terjadi dari penggunaan forklift dapat menyebabkan cedera bagi pekerja dan kerusakan pada properti perusahaan, mulai dari kerusakan rak, kerusakan produk, serta kerusakan dinding gedung. Pada umumnya, setelah operator mengalami kecelakaan kerja, mereka akan diberikan hukuman, diberikan pelatihan ulang dan diuji ulang sebelum kembali mengendarai forklift. Namun, seringnya para operator tidak mengidentifikasi akar masalah dari kecelakaan yang mereka alami. Ada kalanya kecelakaan terjadi karena kelebihan waktu kerja, forklift yang tidak dimaintain dengan baik, tidak dilakukannya pengecekan harian atau jalur yang tidak dipisahkan antara jalur pejalan kaki dengan jalur kendaraan. Agar kecelakaan kerja dapat diminimalisir, perlu dilakukannya pengecekan harian, pembagian waktu kerja yang sesuai, serta pengaturan jalur di tempat kerja.

  9. Lockout / Tagout
  10. Pada dasarnya, jika pekerja mengikuti prosedur logout/tagout yang tepat dapat, mereka dapat mencegah kecelakaan kerja yang mungkin terjadi. Meskipun seluruh tahapan logout/tagout diikuti, kesalahan alat masih mungkin terjadi. Sehingga, pekerja butuh ditingkatkan kompetensinya terkait logout/tagout agar seluruh prosedurnya mampu diikuti oleh pekerja.

  11. Bahaya Senyawa kimia
  12. Senyawa kimia memiliki dampak yang berbahaya, 5-gram senyawa kimia dalam botol kecil yang disimpan dalam waktu yang lama akan berubah menjadi senyawa kimia yang tidak stabil bahkan dapat menimbulkan ledakan. Untuk menghindari hal tersebut, diperlukan sistem penyimpanan yang lebih terorganisir, seperti mencantumkan nama senyawa kimia, waktu kedaluarsa dan membuat Material Safety Data Sheet (MSDS) untuk setiap jenis senyawa.

  13. Ruang Terbatas
  14. Ruang terbatas bisa menyebabkan banyak sekali bahaya. George mengatakan banyak kecelakaan kerja yang terjadi di ruang terbatas karena pekerja tidak mendapatkan izin kerja atau gagal melakukan penilaian risiko dalam ruang terbatas. Kegagalan penilaian risiko dapat terjadi karena alat ukur yang digunakan tidak berfungsi dengan baik. Jika penilaian risiko dan prosedur izin kerja dilakukan dengan benar, kecelakaan kerja dapat dihindari.

Sumber: Hasil olahan penulis dari https://www.safetyandhealthmagazine.com

Infografis

More info

For Training in Jabodetabek, Banten and Jabar

Call Nurwita

+62 811-1797-484

 

For Training in Surabaya & Makassar

Call Yanuar

+62 811-1798-354

 

Latest Event

Inhouse Training Teknisi K3 Listrik di PT Indonesia Comnet Plus
Public Training Ahli K3 Umum ISC Safety School Surabaya
Inhouse Training Awareness Safety Construction PT Acset Indonusa Tbk
Inhouse Training Risk Management Safety PT. Vopak Terminal Merak
Inhouse Training Operator Boomlift PT Garuda Maintenance Facility AeroAsia

Get Our Regular Safety Ebook

Stay on top of the latest and greatest

Follow us on

Web Analytics