Yuk hitung kebutuhan Perancah Proyekmu!

Kalian sudah tahu cara menghitung kebutuhan perancah pada proyek pembangunan? Sebagai penanggung jawab proyek, kita bertanggung jawab untuk memilih perancah yang tepat untuk pekerjaan yang kita lakukan.  Tetapi jika kita melakukan kontrak dengan pihak ketiga, 2 hal ini wajib dilakukan:

  • Pilih pemasok perancah, agen persewaan yang memiliki pengetahuan menyeluruh tentang peralatan yang dibutuhkan dan keamanan penggunaannya.
  • Dapatkan buku manual pemilik yang disiapkan oleh pabrikan perancah yang menyatakan batasan peralatan, peringatan khusus, penggunaan yang dimaksudkan, dan persyaratan perawatan.

Jika Anda akan memilih perancah sendiri, mulailah dengan meninjau persyaratan tertulis (perintah kerja, dll.) Untuk menentukan di mana perancah harus digunakan dan jenis perancah yang dibutuhkan, pastikan perancah memenuhi semua persyaratan. Pertimbangkan bahwa perancah umumnya dinilai dari beban ringan, sedang dan berat.

  • Perancah beban ringan dapat mendukung sejumlah karyawan dan perkakas tangan.
  • Perancah beban menengah harus mampu menahan pekerja, perkakas tangan, dan berat bahan konstruksi yang sedang dipasang dengan aman.
  • Perancah beban berat diperlukan ketika perancah harus menopang pekerja, alat, dan berat bahan yang disimpan.
  • Perhitungkan semua fitur khusus dari struktur bangunan yang berhubungan dengan Perancah, termasuk kondisi lokasi yang berbeda. Pertimbangkan pertimbangan berikut ke dalam kebijakan Anda:
    • pengalaman tenaga kerja
    • lamanya dan jenis tugas pekerjaan yang harus dilakukan
    • berat beban yang harus didukung
    • bahaya bagi orang yang bekerja di dan dekat perancah
    • membutuhkan perlindungan jatuh
    • kerekan material (katrol)
    • peralatan penyelamat (terutama untuk perancah gantung)
    • cuaca dan kondisi lingkungan
    • ketersediaan perancah, komponen, dll.

Di Indonesia, bahan perancah biasanya terbuat dari bambu. Selain lebih murah, bambu juga banyak dipilih karena bersifat tahan gempa. Berkat kemajuan teknologi, kebanyakan perancah saat ini berasal dari tabung atau pipa logam yang dirancang memakai sistem modular.

Dibutuhkan keterampilan dan ketelitian yang cukup tinggi untuk dapat menghitung jumlah kebutuhan perancah dengan benar. Metode yang paling sering digunakan yaitu membuat suatu peta tentang kebutuhan perancah. Caranya yakni memperhatikan secara cermat gambar bangunan yang akan dipasangi perancah, lalu buatlah rencana ukuran perancah di dalam gambar tersebut. Secara garis besar, luas perancah yang standar berukuran 1,2 x 1,8 m serta tingginya 1,7 m atau menyesuaikan jack-base dan u-head.

Pembangunan Balok dan Plat Lantai

Pada saat membuat perancah di pekerjaan struktur, kita harus mengutamakan perancah di bagian bangunan yang lebih penting. Contohnya jika ingin membuat balok dan plat lantai, maka berikanlah prioritas pertamakali dengan membangun perancah balok terlebih dahulu.

Buatlah peta dan perhitungan kebutuhan perancah tiap masing-masing balok dahulu. Setelah itu, kita bisa melanjutkan pembuatan perancah untuk plat lantai apabila masih tersedia ruang yang cukup. Tetapi jika ruang yang tersisa tidak muat untuk pembuatan perancah, cobalah menggantinya dengan memasang pipa penahan yang sanggup meningkatkan kekuatan struktur perancah.

Langkah selanjutnya kita perlu menaksir ketinggian struktur yang akan dibangun. Dari sini bisa diketahui berapa jumlah tingkat perancah yang dibutuhkan, apakah harus membuat satu, dua, tiga, atau lebih tingkat perancah untuk mendukung proyek pekerjaan pembangunan. Terakhir, hitunglah total kebutuhan perancah yang ada di peta secara keseluruhan.

Pemasangan Bata, Pemlesteran, dan Pengecoran

Jika dibandingkan dengan petunjuk di atas, proses perhitungan kebutuhan perancah pada pekerjaan pemasangan batubata, pemlesteran, dan pengecoran terbilang lebih gampang. Informasi yang diperlukan hanyalah ukuran panjang dan tinggi area yang ingin dipasangi perancah.

Setelah diukur panjang dan tinggi areanya, kemudian masing-masing ukuran tersebut dibagi dengan dimensi perancah. Panjang area dibagi dengan 1,8 m, sedangkan tingginya dibagi dengan 1,7 m. Berikutnya hasil dari masing-masing pembagian tadi saling dikalikan. Nah, hasil dari perkalian inilah yang merupakan jumlah kebutuhan perancah yang kita perlukan.

Setelah mengetahui kebutuhan perancah dalam proyek pembangunan kita, jangan lupakan aspek K3 dari penggunaan perancah dalam proyek pembangunan. Tetap terapkan sistem manajemen K3 di proyek pembangunan agar seluruh aset yang kita investasikan di proyek pembangunan, termasuk para pekerja, dapat terhindar dari kecelakaan dan kerugian yang besar. Selain penerapan SMK3 di proyek, kita juga harus memastikan setiap orang yang bekerja menggunakan perancah mulai dari para teknisi perancah, pekerja yang akan bekerja di ketinggian, hingga para supervisi perancah atau para pengawas, memiliki kompetensi mempuni.

Synergy Solusi member of Proxsis Group membantu perusaahaan dalam proses penerapan SMK3 di bidang Konstruksi melalui pendampingan konsultasi serta pengembangan kompetensi personel melalui program pembinaan bersertifikasi Kemnaker RI.

Sumber:

Petrotainingasia.com

 

 

 

 

 

 
 
 
Web Analytics