Penilaian Resiko adalah pendekatan sistematis untuk mengidentifikasi dan mengendalikan bahaya. Ini harus dilihat sebagai proses yang membantu kita  untuk mengidentifikasi unsur-unsur kegiatan apa yang dapat menyebabkan cedera pada manusia, dan untuk memperkenalkan langkah-langkah pengendalian yang diperlukan untuk mengurangi risiko cedera pada tingkat yang dapat diterima. Dengan penilaian resiko diharapkan semua orang mengetahui pengendalian operasional apa yang diperlukan ketika ada risiko yang signifikan.
 
Penilaian risiko bukanlah proses untuk menghilangkan semua bahaya di tempat kerja. Bukan pula berarti melarang kegiatan yang “berbahaya”, sedangkan kegiatan tersebut perlu dan biasa dilakukan. Kita semua hidup dengan beberapa risiko, beberapa kegiatan yang kita lakukan bisa digolongkan sebagai berbahaya. Penilaian resiko memastikan apa yang bisa kita lakukan untuk mengurangi risiko cedera ke tingkat yang rendah secara praktis.Contoh: Seorang anak harus menyeberang jalan dengan lalu lintas yang sibuk saat berangkat ke sekolah.
 
Apakah kita memberitahu anak-anak untuk tidak pernah menyeberang jalan karena itu terlalu berbahaya? Tidak! Kita perlu menilai risiko dan melakukan tindakan pengendalian yang sesuai, misalnya meminta anak tersebut untuk selalu menyeberang di zebra cross saat lampu merah lalu lintas berwarna merah, atau menyeberang pada jembatan penyeberangan yang tersedia.

Penilaian resiko harus “sesuai” dan “memadai” sesuai risiko kesehatan dan keselamatan kerja yang dihadapi selama berada di tempat kerja. Sesuai dan memadai berarti bahwa ketika kita melakukan penilaian risiko, kita diharapkan untuk mengambil langkah-langkah yang wajar untuk mengidentifikasi semua bahaya, memperkenalkan pengendalian yang sesuai dan mengurangi risiko cedera ke tingkat yang dapat diterima. Hal ini bisa jadi membutuhkan beberapa masukan dari orang lain yang lebih berpengalaman dan mengetahui detail tentang tugas atau aktivitas terkait.

Ada 5 langkah yang bisa dilakukan dalam penilaian resiko:
1)   Identifikasi bahaya
2)  Identifikasi siapa yang dapat terkena bahaya
3)  Identifikasi pengendalian saat ini dan tetapkan apakah diperlukan tambahan?
4)  Rekam hasil/temuan penilaian resiko
5)  Lakukan tinjauan

1.   IDENTIFIKASI BAHAYA
Hal yang perlu dilakukan adalah mengidentifikasi bahaya yang berhubungan dengan tugas atau kegiatan. Salah satu
cara untuk melakukan ini adalah dengan menggunakan konsep “PEME”: People – Equipment – Materials – Environment (Manusia – Peralatan – Bahan – Lingkungan)

People hazard (Bahaya Manusia)
Bahaya manusia mencakup sejumlah isu. Beberapa bahaya dilakukan oleh individu terkait. lainnya adalah dilakukan dengan sistem yang mengharuskan orang menggunakan. Ketika berpikir tentang bahaya manusia, kata-kata seperti; Pelatihan, Kemampuan /Pembatasan, Pengawasan, Komunikasi, Jumlah yang memadai dan Kesalahan manusia, harus dipertimbangkan.

Equipment hazard (Bahaya Peralatan)
Bahaya peralatan akan berhubungan dengan peralatan yang digunakan, dan juga mencakup pekerjaan yang terkait dengan; Perbaikan, Pemeliharaan, Penanganan, Pembersihan, Penyimpanan dan Pengoperasian peralatan.

Material hazard (Bahaya Material)
Bahaya material mencakup material padat, cair atau gas yang berhubungan dengan pekerjaan. Hal ini tidak hanya mencakup zat-zat yang dibutuhkan untuk tugas tertentu, tetapi juga setiap produk atau limbah yang dihasilkan oleh pekerjaan atau aktifitas.

Environment hazard (Bahaya Lingkungan)
Bahaya lingkungan adalah semua bahaya di lingkungan Anda bekerja. Tergantung pada lokasi dan aktivitas, bahaya bisa mencakup; Kurang cahaya, Panas dan Ventilasi, Kurangnya akses/jalan keluar, Bahaya tersandung/tergelincir, Ruang terbatas/visibilitas dan kegiatan lain di sekitar lokasi aktifitas.

Sebagai contoh, perhatikan  aktifitas Penggergajian kayu di bawah ini;

Picture
Saat melakukan identifikasi bahaya, perlu dipertimbangkan hal-hal berikut;
 

 Bahaya manusia:
– Apakah mereka mengikuti prosedur yang benar ?
– Apakah orang-orang ini dilatih ?
– Apakah secara fisik mampu melakukan pekerjaan ?
– Apakah cukup orang untuk melakukan pekerjaan ?
– Apakah ada orang yang mengawasi pekerjaan ?
– Bagaimana jika orang ini membuat kesalahan ?
– Bagaimana mereka berkomunikasi (selama pekerjaan dan dalam situasi darurat) ?

Bahaya peralatan:
– Berat peralatan
– Bagian yang tajam
– Getaran peralatan
– Noise peralatan
– Kurangnya pemeliharaan
– Penyimpanan yang sembarangan saat tidak digunakan
– Menggunakan sarung tangan / Sarung tangan yang digunakan sesuai untuk memegang gergaji?

Bahaya material:
– Bensin untuk gergaji
– Kayu debu yang dihasilkan
– Minyak / grease untuk pelumasan peralatan

Bahaya lingkungan:
– Terbakar sinar matahari
– Bahaya slip / trip
– Pergerakan kendaraan
– Masalah pencahayaan jika dilakukan pada malam hari
– Panas / Dingin / angin
– Aktifitas pemindahan kayu
– Kemungkinan ruang pekerjaan yang terbatas

 2.   IDENTIFIKASI SIAPA YANG DAPAT TERKENA BAHAYA
Setelah melakukan identifikasi bahaya, kita harus memiliki daftar bahaya yang berhubungan dengan pekerjaan yang berpotensi mengakibatkan cedera bagi mereka yang berisiko.
Jadi, siapa yang berisiko? Langkah kedua meminta Anda untuk melihat siapa yang dapat dirugikan.Pertimbangkan pekerjaan konstruksi sebagai berikut

 Picture

Meskipun pekerjaan tampaknya telah dikelola dengan baik, jika langkah-langkah pengendalian gagal, maka beberapa orang terkait bisa terluka, misalnya;
1.   Pekerja permanen di lokasi
2.  Personil yang mengunjungi lokasi
3.  Pejalan kaki yang melintas di lokasi
4.  Penyusup dan anak-anak yang masuk ke lokasi
 
Penilaian risiko harus mempertimbangkan semua pihak / orang yang berpotensi dirugikan jika pengendalian gagal.
 
3.   IDENTIFIKASI PENGENDALIAN SAAT INI, TETAPKAN APAKAH PERLU PENGENDALIAN TAMBAHAN ?
Kita perlu melihat tindakan pengendalian apa yang telah tersedia saat ini, untuk setiap bahaya yang telah diidentifikasi. Dalam beberapa kasus, bisa jadi tidak terdapat pengendalian, atau bisa jadi karena bahaya memang belum dipertimbangkan. Namun demikian, bisa pula telah tersedia pengendalian yang baik di lokasi karena bahaya yang jelas dan mudah dikendalikan.Pertimbangkan aktifitas Penggergajian kayu di atas;
 
Mungkin, bahaya kebisingan telah dikendalikan dengan menetapkan APD (Alat Pelindung Diri) berupa alat perlindungan pendengaran (misalnya earplug). Namun, apakah kita telah mempertimbangkan “getaran” ?
– Apakah peralatan memiliki properti anti-getaran;
– Apakah peralatan terawat;
– Apakah ada pembatasan waktu penggunaan?

Ketika mencoba untuk mengidentifikasi pengendalian saat ini, perlu dipertimbangkan untuk dilihat dengan 3 cara:
1.   Pengendalian Fisik (misal; pagar logam di sekitar lokasi konstruksi)
2.  Pengendalian Prosedural (misal; prosedur kerja yang aman untuk tugas)
3.  Pengendalian Perilaku (misal; pengawasan yang memadai dan pemantauan perilaku)

Contoh pengendalian di lokasi konstruksi;

Picture
Apakah pengendalian lebih lanjut yang diperlukan?
 
Sebelum kita dapat melakukan hal ini, kita perlu melihat apa yang dikenal sebagai hirarki pengendalian.
Pemilihan pengendalian perlu disesuaikan dengan tingkat resiko yang ada. Pengendalian yang simple kadangkala tidak cukup, kita harus memilih pengendalian yang terbaik dan paling efektif sejauh yang kita bisa untuk semua pekerjaan.
 
Kita mungkin telah melakukan pekerjaan tertentu, mengidentifikasi pengendalian saat ini dan mungkin berpikir tentang menambahkan pengendalian tambahan. Tapi, bagaimana kita tahu pengendalian mana yang terbaik. Berikut adalah hirarki pengendalian yang umum;
 
1.  Eliminasi – Menghilangkan bahaya
2.  Substitusi – Pengganti bahaya
3.  Engineering control – Pengendalian teknis
4.  Administrative Control – Pengendalian administrasi (Prosedur, warning signage, dll)
5.  Personal Protective Equipment – Alat Pelindung Diri
 
Prinsip dasarnya adalah bahwa semakin banyak pengendalian yang kita gunakan dari puncak hirarki pengendalian, adalah pengendalian yang terbaik yang kita miliki.

Mari kita lihat contoh yang praktis di bawah ini:

Untuk mempersiapkan presentasi, kita diminta untuk memindahkan barang-barang berikut ke ruang pelatihan:
TV (1 x 16kg), Kotak peralatan (5 & 12 kg), Flip chart (9kg), Papan display (1 x 6kg) dan Laptop (4.5kg)
Pekerjaan ini akan melibatkan beberapa hal seperti; aktifitas melalui pintu, menuruni tangga dan di jalan. Warning sign telah terpasang di beberapa lokasi, serta sarung tangan telah disediakan agar saat membawa barang-barang tersebut tangan tidak luka. Apakah pengendalian bahaya yang terbaik telah dilakukan?

Mengacu ke hirarki pengendalian, pengendalian yang dilakukan adalah di hirarki nomor 4 & 5. Apakah bisa kita terapkan hirarki pengendalian  di atasnya? Berikut hal yang bisa dilakukan;
– Identifikasi ruang pelatihan, cari ruang pelatihan yang telah terpasang TV dan flipchart (Hirarki No. 1 – Eliminasi)
– Jangan gunakan papan display, gunakan flipchart (Hirarki No. 2 – Substitusi)
– Gunakan satu kotak untuk mengurangi berat badan (Hirarki No. 3 – Engineering control)
– Gunakan troli untuk memindahkan kotak (Hirarki No. 3 – Engineering control)

Dengan memperkenalkan pengendalian sederhana di atas, risiko cedera telah berkurang secara signifikan.

4.  REKAM PENILAIAN RESIKO
Dengan merekam temuan, diharapkan hasil rekaman tersebut dapat menjadi suatu sistem yang jelas dan menjadi acuan untuk sosialisasi atau refreshing training ke personel-personel terkait. Terkait rekaman penilaian resiko, perlu diperhatikan;
– Kejelasan lokasi dan pekerjaan
– Pastikan bahwa bahaya dan pengendalian secara jelas tercantum.
– Pertimbangkan semua orang yang berpotensi dirugikan.
– Pastikan bahwa personil terkait memahami rekaman (misal bahasa)
– Pastikan bahwa penilaian risiko tersedia bagi mereka yang mungkin membutuhkannya – Jangan hanya disimpan dalam file!

5.   TINJAUAN REGULER
Penilaian risiko harus ditinjau secara teratur. Periode tinjauan perlu ditetapkan. Tinjauan harus dilakukan jika terdapat perubahan yang berpotensi berpengaruh terhadap perubahan bahaya dan resiko yang saat ini telah diidentifikasi. Ingat, penilaian risiko harus merupakan dokumen dinamis, yang dapat berubah sesuai keadaan

Ringkasan
Penilaian risiko adalah proses yang dapat diterapkan untuk semua kegiatan di tempat kerja. Elemen-elemen kunci adalah:
– Mengidentifikasi bahaya – Apakah yang sesuai dan memadai; ingat PEME
– Mengidentifikasi siapa yang dapat terkena bahaya
– Mengidentifikasi apa yang kita lakukan pada saat ini untuk mengendalikan risiko. Tanya, dapatkah saya melakukan lebih baik?
– Rekam hasil/temuan penilaian resiko
– Lakukan tinjauan secara periodik

Source: http://komara.weebly.com

Untuk membantu pemahaman Perusahaan dalam sertifikasi K3, ISC Safety School Menyelenggarakan Training Ahli K3 Umum Sertifikasi Kemnaker RI dengan keterangan sebagai berikut:


Daftarkan diri Anda dalam Training Ahli K3 Muda Konstruksi Sertifikasi Kemnaker RI berikut (Pasti Running):

Jakarta: 10 - 22 Juli 2017
Contact Person: Kartika | 0811-1797-484 | This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.

Surabaya: 17 - 29 Agustus 2017
Contact Person: Ardi | 0811-1798-354 | This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.

Untuk informasi seputar Konsultasi SMK3 atau Sertifikasi SMK3, silakan klik di sini

Infografis

More info

For Training in Jabodetabek, Banten and Jabar

Call Nurwita

+62 811-1797-484

 

For Training in Surabaya & Makassar

Call Yanuar

+62 811-1798-354

 

Latest Event

Inhouse Training Teknisi K3 Listrik di PT Indonesia Comnet Plus
Public Training Ahli K3 Umum ISC Safety School Surabaya
Inhouse Training Awareness Safety Construction PT Acset Indonusa Tbk
Inhouse Training Risk Management Safety PT. Vopak Terminal Merak
Inhouse Training Operator Boomlift PT Garuda Maintenance Facility AeroAsia

Get Our Regular Safety Ebook

Stay on top of the latest and greatest

Follow us on

Web Analytics