Cepat atau lambatnya laju roda bisnis bergantung pada kondisi para pekerjanya. Kesalamatan dan Keselamatan Kerja (K3) harusnya menjadi prioritas, wajib ada penanggung jawab khusus di dalam organisasi perusahaan. Namun, banyak pelaku usaha yang enggan menerapkannya. Mereka yang ditugaskan sebagai penanggung jawab, jarang ditempatkan pada posisi-posisi strategis perusahaan.

Jajaran top management selalu saja diisi oleh mereka yang berkutat pada urusan bisnis serta keuangan. Kondisi seperti ini sesungguhnya menunjukkan bahwa perusahaan nyaris mengabaikan potensi-pontensi kecelakaan dan risiko keselamatan kerja. Komposisi top management ini harus mulai diubah dengan menempatkan para pakar bidang K3 di kursi manajemen. Para pakar K3 tersebut diminta aktif membuka pola pikir menejemen di perusahaan agar K3 diprioritaskan.

Agar manajemen mau membuka peluang para pakar K3 duduk dijajaran top management, 3 hal yang perlu dilakukan untuk meyakinkannya, antara lain:

  1. Berbicara kepada top management tentang pentingnya K3 dalam perusahaan.
  2. Banyak pakar K3 yang tidak berdiskusi dengan jajaran top management karena mereka tidak mengetahui caranya. Hal ini disebabkan karena para pakar K3 belum mengintegrasikan K3 dengan proses utama bisnis yang mereka lakukan. Top management sangat memperhatikan segala macam risiko yang dapat mempengaruhi keberlangsungan perusahaan. Jadi para pemimpin K3 harus menunjukkan bahwa K3 mampu menjelaskan dan menjabarkan setiap risiko dan memitigasinya.

  3. Mampu mengadaptasi dan mengembangkan kerangka strategis.
  4. Pakar K3 tidak cukup hanya memaksa top management untuk mulai melirik aspek K3 di perusahaan. Pakar K3 juga harus mampu membuat kerangka strategis dari setiap program K3 demi keberlangsungan perusahaan. Kerangka kerja yang dibuat harus mampu dimengerti dan diukur pencapaiannya oleh semua pihak. Kerangka kerja yang baik dapat membantu top management dalam melacak setiap risiko yang ada dan langkah untuk memitigasinya.

  5. Tambahkan K3 dalam strategi kompetensi diri.
  6. K3 tidak akan pernah ada dalam jajaran top management selama kegiatan K3 hanya dijalankan oleh pakar K3 saja. Top management butuh seorang pemimpin yang mampu memimpin diskusi dan memastikan bahwa risiko yang ada di perusahaan mampu dimengerti dan ditangani. Perusahaan harus merekrut dan mengembangkan kompetensi memimpin kepada pemimpin K3 dan memastikan bahwa para pakar K3 memiliki jenjang karir yang tinggi di perusahaan.

Eksekutif yang memimpin program K3 berkewajiban untuk memulai diskusi strategi untuk kepentingan karyawan dan kesejahteraan perusahaan. Untuk sampai ke tahap itu, tentunya jalan yang ditempuh tidak akan mudah. Transisi dari taktis ke strategis membutuhkan waktu dan kerja keras untuk mencapainya. Lebih penting lagi, hal ini mengharuskan para pemimpin untuk meninjau kembali asumsi tentang apa itu K3 dan apa yang bisa dilakukan.
Sumber: Hasil olahan penulis dari safetyandhealthmagazine.com Sumber Gambar: news.okezone.com

Web Analytics

Infografis

Mengapa Harus ISC?

More info

For Training in Jakarta

Call Nurwita

+62 811-1797-484

 

For Training in Surabaya & Makassar

Call Yanuar

+62 811-1798-354

 

For Training in Balikpapan

Call Nurmarini

+62 811-9334-860

Latest Event

Inhouse Training Teknisi K3 Listrik di PT Indonesia Comnet Plus
Public Training Ahli K3 Umum ISC Safety School Surabaya
Inhouse Training Awareness Safety Construction PT Acset Indonusa Tbk
Inhouse Training Risk Management Safety PT. Vopak Terminal Merak
Inhouse Training Operator Boomlift PT Garuda Maintenance Facility AeroAsia

Get Our Regular Safety Ebook

Stay on top of the latest and greatest

Follow us on

Web Analytics