Berdasar pada Undang-undang No 1 tahun 1970 tentang Keselamatan dan Kesehatan Kerja, setiap aktifitas pekerjaan mewajibkan untuk melakukan perlindungan terhadap keselamatan kerja bagi pekerja, orang lain dan sumber-sumber produksi. Langkah-langkah penerapan, pembinaan dan evaluasi terhadap Keselamatan dan Kesehatan Kerja harus dilakukan secara berkelanjutan untuk meningkatkan kualitas hasil kerja dan unsur Keselamatan dan Kesehatan Kerja terhadap pekerja, peralatan kerja dan lingkungan kerja.

Aktifitas atau pekerjaan dalam ruang terbatas adalah salah satu aktifitas  yang  mengandung potensi bahaya sehingga sangat dibutuhkan penerapan program Keselamatan dan Kesehatan Kerja untuk menjamin keselamatan dan kesehatan bagi pekerja.

  1. Definisi Ruang Terbatas ( Confined Space )

Menurut Ir. Amri AK, ruang terbatas ( confined space ) adalah ruangan yang mempunyai karakter-karakter sebagai berikut:

  • Konstruksi ruangan yang mencukupi untuk seseorang memasukinya dan melakukan pekerjaan di dalamnya,
  • Berakses keluar masuk terbatas,
  • Tidak dirancang untuk ruang kerja dan pekerjaan terus menerus.

Contoh-contoh ruang terbatas tersebut diantaranya adalah:

  • Tanki penyimpanan air, bahan bakar atau tanki bahan-bahan kimia,
  • Bunker,
  • Terowongan,
  • Sumur air konvensional,
  • Saluran pembuangan, selokan, septic tank atau saluran limbah,
  • Silo ( gudang penyimpanan bahan-bahan tertentu ),
  • Container dan lain sebagainya.

Jenis aktifitas yang dapat menyebabkan seseorang masuk ke dalam ruang terbatas, diantaranya:

  • Perawatan atau pembersihan,
  • Pemeriksaan,
  • Pekerjaan panas ( pengelasan, penggerindaan, pemotongan ),
  • Perbaikan atau pemasangan peralatan,
  • Proses pertolongan pada korban di dalam ruang terbatas.
  1. Bahaya Ruang Terbatas

Secara konstruksi ruangan, tingkat bahaya yang mungkin ditimbulkan dalam ruang terbatas akan lebih tinggi jika dibandingkan dengan resiko pekerjaan ditempat terbuka. Beberapa contoh kasus kecelakaan kerja pada ruang terbatas membuktikan bahwa faktor bahaya ruang terbatas dapat menyebabkan kematian. Contoh kasus tersebut diantaranya adalah:

  • Empat pekerja perusahaan rekanan Pertamina, PT Bukitafit Bumi Persada (BBP), tewas di dalam tangki bahan kimia ketika sedang membersihkan saluran pipa di lokasi pengeboran minyak di Dusun Wangun-reja, Desa Rancabango, Kec. Patokbeusi. Menurut keterangan rekan korban dan salah seorang dokter di Puskesmas Sukamandi, korban diduga keracunan setelah menghirup gas jenis hidrogen sulfida (H2S).
  • 2 orang teknisi ITC Cempaka Mas Jakarta meninggal dunia ketika melakukan pembersihan saluran limbah sedalam 3 meter. Diduga korban meninggal karena kekurangan oksigen di dalam saluran limbah tersebut,
  • Meninggalnya seorang pekerja ketika sedang melakukan pengurasan / pembersihan sumur air konvensional, karena kekurangan oksigen atau karena keracunan jenis-jenis gas berbahaya.

Faktor bahaya yang mungkin ditimbulkan pada ruang terbatas, diantaranya:

  1. Faktor Fisik:
  • Bahaya mekanik : adanya mesin-mesin atau perangkat-perangkat mekanik yang berputar, penempatan benda-benda atau peralatan-peralatan kerja,
  • Bahaya elektrik : adanya sumber listrik yang tidak terisolasi dengan baik,
  • Bahaya berkaitan dengan konstruksi ruangan : ruang bersekat-sekat / berliku-liku, ruangan basah / licin, adanya benda-benda tajam, kontruksi rapuh,
  • Bahaya kondisi ruangan : suhu yang ekstrim, kebisingan dan terbatasnya penerangan
  1. Faktor Kimia :
  • Gas beracun, misalnya : H2S, SO2,
  • Kondisi oksigen yang tidak normal,
  • Bau karena bahan-bahan kimia yang menyengat,
  • Gas yang dapat terbakar ( flammable gas ),
  • Paparan zat kimia berbahaya pada fisik manusia.

Berdasarkan bahaya-bahaya tersebut diatas, di ketahui bahwa ruang terbatas berpotensi menimbulkan kecelakaan dan kerugian pada pekerja, alat kerja atau lingkungan. Akibat dari bahaya atau kecelakaan kerja yang mungkin terjadi di dalam ruang terbatas, diantaranya:

  • Luka karena terkena putaran mekanik,
  • Benturan benda atau alat,
  • Tersengat arus listrik,
  • Terpeleset, terjatuh, tersayat benda atau dinding yang tajam,
  • Terpapar suhu udara yang sangat panas,
  • Iritasi, pingsan atau meninggal karena terpapar gas beracun,
  • Lemas, pingsan atau meninggal karena kekurangan oksigen,
  • Kebakaran,
  • Iritasi kulit karena terpapar zat kimia tertentu.

Klasifikasi bahaya dalam ruang terbatas dibedakan menjadi 3 klasifikasi, yaitu:

  • Ruang terbatas dengan kondisi tidak berbahaya, adalah suatu ruang yang dikategorikan sebagai ruang terbatas tetapi tidak mengandung potensi bahaya.

Contoh: adalah suatu lubang galian tanah dengan ketinggian tidak lebih dari 1,5 meter dengan tidak adanya penghalang antara lubang dengan udara luar dan memungkinkan seseorang dapat keluar dari lubang dengan mudah. Kondisi tersebut tidak membahayakan pekerja karena kondisi udara tidak membahayakan seseorang dan tidak berpotensi pada bahaya lain.

  • Ruang terbatas dengan kondisi bahaya yang dapat dikurangi atau dihilangkan, adalah kondisi suatu ruang terbatas dengan potensi bahaya tetapi dengan tindakan-tindakan tertentu, potensi bahaya tersebut dapat diminimalisir atau dihilangkan.

Contoh:

  • Ruang terbatas dengan potensi bahaya putaran mekanikal agitator, potensi bahaya putaran agitator tersebut dapat dihilangkan dengan mematikan electric motor dan memasang Lock Out Tag Out pada sakelar,
  • Potensi bahaya adanya gas yang dapat terbakar dapat dikurangi atau dihilangkan dengan melakukan flushing dengan air atau purging dengan nitrogen,
  • Adanya bau yang menyengat dapat dikurangi dengan melakukan sirkulasi udara dengan pompa hisap udara atau dengan blower,
  • Ruang terbatas dengan kondisi bahaya tidak dapat dihilangkan, adalah kondisi ruang terbatas dengan potensi bahaya tidak dapat dihilangkan sama sekali, sehingga ketika suatu pekerjaan harus dilakukan di dalamnya, pekerja harus dilengkapi dengan peralatan keselamatan kerja khusus.

Contoh:

  • Ketika pekerja harus menutup valve dalam ruang terbatas yang mengeluarkan gas H2S, kondisi bahaya tersebut tidak dapat dihilangkan jika valve tersebut tidak tertutup, sehingga tindakan yang harus dilakukan pekerja adalah melengkapi diri dengan alat bantu pernafasan,
  • Adanya endapan lumpur di dalam tanki lumpur pemboran, endapan tersebut baru dapat dihilangkan dengan cara pengerukan langsung, sehingga pekerja harus menggunakan alat bantu pernafasan, sepatu karet, sarung tangan dan dilengkapi dengan life line rope.
  • Potensi terjebak karena kontruksi ruangan yang bersekat-sekat sehingga potensi bahaya konstruksi tersebut tidak dapat dihilangkan,
  • Kondisi ruangan dengan komposisi oksigen kurang dan tidak memungkinkan dilakukan flushing dengan udara bersih,
  • Adanya sumber panas atau kebisingan yang tidak dapat dikurangi atau dihilangkan.

Sumber: //www.proxsisgroup.com/pengetahuan-umum-tentang-ruang-terbatas-confined-space/

ISC Safety School Surabaya menyelenggarakan
Training Petugas Confined Space Utama Sertifikasi Kemnaker RI
pada tanggal 25 – 29 Juni 2018
(Fix Running)

berlokasi di
AMG Tower Lt. 17
Jl. Dukuh Menanggal No. 1 A
Gayungan – Surabaya
Segera Daftarkan diri anda ke Contact Person Kami
Dirga | This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it. | 08111798354

Mengapa perlu Manajemen Resiko ?
– Tiap tempat kerja memiliki sumber bahaya (bahan, proses, alat dan lingkungan) yang sulit dihilangkan
– Sebagai alat bantu dalam menentukan tindakan pengendalian resiko sesuai dengan sumber bahaya yang ada
– Menilai apakah tindakan pengendalian resiko sudah sesuai

Bahaya adalah sesuatu yang berpotensi menimbulkan cidera/kerugian (manusia, properti, proses, lingkungan)

Beberapa Definisi terkait manajemen resiko
Resiko adalah sesuatu yang berpotensi menimbulkan cidera/kerugian atau merupakan kombinasi da kemungkinan / peluang dan akibat.

Analisa Resiko adalah kegiatan analisa suatu resiko dengan cara menentukan besarnya kemungkinan / probability dan tingkat keparahan dari akibat / consequences suatu resiko

Penilaian Resiko / Risk Assesment adalah penilaian suatu resiko dengan membandingkan terhadap tingkat / kreiteria resiko yang telah ditetapkan.

Manajemen Resiko adalah penerapan secara sistematis dari kebijakan manajemen, prosedur dan aktifitas dalam kegiatan identifikasi bahaya, analisa, penilaian, penanganan dan pemantauan serta review resiko.

Manajemen resiko sebaiknya dilakukan dalam suatu tim atau beberapa unsur dari karyawan yang terlihbat pada pekerjaan tersbut dengan tujuan :
– Lebih banya informasi yang terkumpul
– Diperoleh kesepakatan dari beberapa sudut pandang yang berbeda
– Solusi yang diputuskan diterima oleh semua pihak yang terlibat

Kapan Manajemen Resiko dilakukan?
– Pada tahap awal / perancangan / design
– Pengembangan prosedur / instruksi kerja baru
– Modifikasi proses
– Ditemukan bahaya baru

Tahapan Manajemen Resiko
1. Komitment
2. Persiapan
3. Identifikasi Bahaya
4. Akibat – Peluang
5. Penilaian Resiko
6. Penanganan Resiko
7. Monitor & Review

Komitmen
Harus mendapat dukungan dari lini manajemen karena:
– Manajemen paling banyak terlibat dalam pengambilan keputusan
– Terkait pada kebijakan organisasi secara keseluruhan
– Terkait pada alokasi SDM dan finansial

Persiapan
Agar kegiatan Manajemen Resiko berjalan dengan lancar diperlukan
– Ruang lingkup kegiatan
– Personil
– Standar / acuan penetapan resiko
– Prosedur
– Dokumentasi

Identifikasi Bahaya
Dilakukan identifikasi bahaya yang terdapat dalam suatu aktifitas / kegiatan / proses kerja, dll. Teknik sederhana untuk melakukan identifikasi bahaya adalah dengan membuat pertanyaan sbb:
a. Apakah sumber bahaya penyebab cidera ?
b. Siapa yang terpapar ?
c. Bagaimana cidera bisa timbul ?

Sumber bahaya :
– Keadaan bahan / peralatan
– Sifat Pekerjaan
– Lingkungan Kerja
– Cara Kerja
– Proses Produksi

Siapa terpapar ?
– Karyawan
– Kontraktor
– Tamu
– Pihak Ketiga

Bagaimana cidera bisa timbul ?
– Jatuh dari ketinggian
– Tertimpa
– Terbentur / tertabrak
– Terjebak / Terjepit
– Kontak dengan suhu ekstrim
– Tersengat listrik
– Kontak dengan Bahan kimia berbahaya

Teknik Identifikasi Bahaya :
– Inspeksi
– Work Through Survey
– Audit
– Kuisoner
– Data Statistik
– HAZOP / Fault Tree Analysis

Analisa dan Penilaian Resiko
Setelah Bahaya diidentifikasi, tahap selanjutnya adalah melakukan analisa dan penilaian resiko.
Dalam melakukan analisa dan penilaian resiko parameter yang digunakan adalah AKIBAT (Consequences) dan PELUANG (frequency)
Akibat adalah tingkat keparahan yang mungkin terjadi dari suatu insiden yang melibatkan manusia, properti, lingkungan ataupun reputasi perusahaan.
Contoh:
Yang berakibat pada manusia seperti Fatal, cacat, perawatan medis, P3K.
Yang berakibat pada properti seperti kerusakan fasilitas pabrik
Peluang adalah Frekuensi terjadinya insiden yang bisanya dinyatakan dalam satuan waktu
Contoh :
– Pernah terjadi pada perusahaan sejenis
– pernah terjadi di perusahaan ini
– Pernah terjadi diperusahaan ini beberapa kali dalam satu tahun

Beberapa acuan yang digunakan untuk melakukan penilaian resiko adalah sebagai berikut :
– Informasi tentang aktifitas pekerjaan
– Yindakan pengendalian yang telah dilakukan
– Peralatan yang digunakan
– Data statistik kecelakaan
– dll

Analisa resiko dibagi menjadi
– Kualitatif
– Semikualitatif
– Kuantitatif

Kualitatif
Menganalisa dan menilai resiko dengan membandingkan parameter akibat dan peluang dengan membandingkan matriks yang telah ditetapkan

Semikuantitatif
Metode yang dipakai hampir sama dengan metode kuantitatif perbedaannya terletak pada nilai / skor tertentu yang telah ditetapkan sesuai resikonya.

Kuantitatif
Dilakukan dengan menentukan nilai dari masing-masing parameter yang didapat dari hasil analisa yang representatif seperti analisa statistik, simulasi, fault tree analisis, dll.

Penanganan Resiko
Setelah dilakukan selanjutnya ditentukan apakah resiko tersebut dapat diterima (acceptable risk) atau tidak. Apabila resiko tidak dapat diterima (non acceptable risk), perusahaan harus menetapkan tindak lanjut perbaikan sampai resiko terendah dengan prinsip hirarki pengendalian sbb:
– Eliminasi
– Subtitusi
– Rekayasa
– Administrasi
– ALat Pelindung Diri

Monitor dan Review
Manajemen resiko yang ditelah ditetapkan harus selalu di monitor, apakah sudah sesuai dengan penerapan di aktifitas pekerjaan, jika tidak harus dilakukan kaji ulang atau review dan dipastikan selalu update.

 

Sumber: //nuruddinmh.wordpress.com/2012/03/13/manajemen-resiko/

ISC Safety School Surabaya menyelenggarakan
Training Ahli K3 Umum Sertifikasi Kemnaker RI
pada tanggal 14 – 26 Mei 2018
(Fix Running)

berlokasi di
AMG Tower Lt. 17
Jl. Dukuh Menanggal No. 1 A
Gayungan – Surabaya
Segera Daftarkan diri anda ke Contact Person Kami
Dirga | This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it. | 08111798354

Infografis

Mengapa Harus ISC?

More info

For Training in Jabodetabek, Banten and Jabar

Call Rini

0811-1798-350

 

For Training in Surabaya, Makassar & Bali

Call Laksmi

+62 811-1798-354

 

Latest Event

Inhouse Training Teknisi K3 Listrik di PT Indonesia Comnet Plus
Public Training Ahli K3 Umum ISC Safety School Surabaya
Inhouse Training Awareness Safety Construction PT Acset Indonusa Tbk
Inhouse Training Risk Management Safety PT. Vopak Terminal Merak
Inhouse Training Operator Boomlift PT Garuda Maintenance Facility AeroAsia

Get Our Regular Safety Ebook

Stay on top of the latest and greatest

Follow us on

Web Analytics